Siapa sangka, orang-orang yang menghabiskan sebagian hidupnya dibalik bui mampu mendatangkan pendapatan yang cukup besar. Baik bagi dirinya maupun negara yang ia banggakan. Sadar akan potensi yang dimiliki, para penghuni ‘hotel prodeo’ ini pun merajut asa dengan harapan ketika keluar bui akan mampu melajutkan kreativitasnya. Apalagi, jika mengingat sumber daya alam yang dimiliki negara ini yang begitu besar. Untuk urusan produktivitas dan kreativitas kerajinan penduduk Indonesia telah diakui oleh beberapa negara asing. Itu sebabnya, beberapa produk kerajinan asal Indonesia selalu mendapat tempat di pasar global.

Belum lama ini, Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia dan Menteri Koperasi dan UKM menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) berupa kesepakatan untuk mengembangkan keterampilan narapidana dan Warga Binaan Permasyarakatan (WBP) dalam bidang usaha mikro, kecil, dan menengah. Lahirnya MoU tersebut ternyata membawa angin besar untuk para narapidana dalam mengasah kreativitas sekaligus mendapatkan penghasilan selama di bui. Data dari Dinas Koperasi dan UKM Kalimantan Tengah menyebut 60% rotan Kalteng dikirim keluar daerah sebagai bahan mentah. Dengan dibukanya ‘keran’ baru ini diharapkan mampu mengurangi pengiriman bahan baku rotan dalam bentuk belum jadi itu.

Menembus Pasar Global
Sebut saja Dharmawan, salah seorang narapidana warga binaan Rutan Cipinang, Jakarta, mampu mengisi masa hukumannya dengan membuat produk kerajinan seperti kotak tisu, gantungan handuk, kapal pinis, kertas Koran, dan lain sebagainya. Ia mengaku, ide membuat kerajinan hanya sebatas konsep. Untuk urusan produksi dilakukan secara bersama-sama. Dharmawan kembali menambahkan, ketika melihat beberapa produk kerajinan tangan beberapa rekan, Ia melihat bahwa produk tersebut bisa dijual.
Ini juga dibuktikan oleh Ade, salah seorang narapidana dari Rutan kelas satu dari Cirebon. Produk kerajinannya berupa bola sepak mendapat apresiasi positif saat digelarnya Pameran bertajuk Kerajinan Napi. Ade mengaku mampu memproduksi bola sepak sebanyak 4–5 per hari.
Dalam Pameran Kerajinan Napi yang diselenggarakan pada tahun 2012 lalu, ternyata mampu memberikan dampak positif. Nyatanya, beberapa produk kerajinan seperti bulu mata palsu yang dibuat narapidana asal Rutan Garut di Jawa Barat telah menembus pasar Taiwan, Swiss dan Tiongkok.
Pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai diatas rata rata 5,7% semakin meningkatkan rasa optimis dalam menghadapi era AFTA 2015 mendatang. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi ini ternyata ikut ditopang oleh produk kerajinan lokal sebanyak 6,4%. Produk kerajinan tumbuh meyakinkan seiring kebijakan permodalan yang diberikan pemerintah.
Sebagai bentuk apresiasi dan fasilitator, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM memberikan ruang untuk memajang serta menjual produk-produk kerajinan tersebut. Ini dapat dilihat di Gedung SMESCO lt. 2, yang berada di Jl. Gatot Subroto. Beberapa produk kerajinan napi seperti miniatur mobil berbahan kayu limbah, miniatur kapal pinisi, serta bola sepak terpajang rapih.

Post a Comment

 
Top